TANGERANG

Terkait Soal SOP Puskesmas Cikokol,REPDEM akan Geruduk Dinas Kesehatan Kota Dan Pemkot Tangerang

Terkait Soal SOP Puskesmas Cikokol,REPDEM akan Geruduk Dinas Kesehatan Kota Dan Pemkot Tangerang
Foto : redaksi/tiraipesisir.com

TANGERANG,TIRAIPESISIR.COM-Penolakan layanan Ambulans Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cikokol kepada Supriyadi,warga Kelapa Indah,Kota Tangerang menyulut kemarahan warga RW 2 Cikokol Kota Tangerang dengan menggelar unjuk rasa di halaman Puskesmas Cikokol,Minggu (25/8/2019).

Dalam aksinya,warga berteriak sambil membentangkan sejumlah spanduk di pagar-pagar Puskesmas. Warga mengaku sangat kecewa dengan Puskesmas Cikokol. Sebab,pihak Puskesmas tidak mengizinkan ambulansnya digunakan untuk mengantar jasad almarhum Husein (8) ke rumah duka atas dasar Standar Operasional Prosedur (SOP).


“Kalau SOP memang seperti itu tapi harus ada toleransi karena ini kejadian di luar dugaan dan urgent harus ada pertimbangan dari sisi moralitas dan kemanusiaan,” kata warga dalam orasinya.

“Kucing ketabrak saja diurusin sampai dikapanin,apa kucing lebih berharga dari manusia,”ucap warga dengan nada emosi.

Unjuk rasa warga tidak ditanggapi pihak Puskesmas karena libur. “Namun Jika belum ada tanggapan pasti akan lebih ramai lagi turun menggelar aksi demo sebagai bentuk kekecewaan warga terhadap sikap pihak Puskesmas yang tidak terpuji itu,” tutur warga Cikokol itu.


Hal ini juga akan ditindak lanjuti serta dikawal oleh Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM) salah satu sayap partai PDI Perjuangan yang konsen dalam aksi-aksi advokasi kemasyarakatan.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Lantik 781 Perwira TNI-POLRI

Dalam sambungan teleponnya kepada tiraipesisir.com Sekjen DPC REPDEM Kota Tangerang,Dwi Wahyudi mengatakan,malam tadi pihaknya tengah menggalang kawan-kawan dari beberapa kota lain seperti DPC Repdem Jakarta Timur,DPC Repdem Kota Depok,DPC Repdem Kabupaten Tangerang,DPC Repdem Kabupaten Bekasi serta DPC Kabupaten Bogor yang berhasil menggagalkan penggusuran oleh Pemkab Bogor terhadap Pedagang kaki lima disepanjang Jalur Ciawi kearah puncak.

Relawan Perjuangan Demokrasi Saat Membahas Beberapa Isu Kemasyarakatan Salah satu Spanduk rasa kecewa yang Pasang oleh Aarga si Puskesmas Cikokol. Foto : redaksi/tiraipesisir.com

Agar hal ini nantinya tidak terulang kembali mereka akan mendesak pihak Dinas Kesehatan Kota Tangerang maupun Pemerintahan Kota Tangerang untuk mengkaji ulang kebijakan SOP tersebut,menurut Dwi Wahyudi,Unit Ambulance dibeli dari hasil uang rakyat melalui pajak sepantasnyalah masyarakat bisa menggunakan saat dibutuhkan. APBN dan APBD sangatlah besar pada bidang Kesehatan maupun Pendidikan,jadi jangan dijadikan SOP sebagai alasan bahwa Unit Ambulance harus Steril dari bakteri jenazah,lalu tidak ada solusi lain untuk mengantar jenazah yang pada saat itu benar-benar dibutuhkan,terlebih pada masyarakat kurang mampu.

Baca Juga :  SIARAN PERS KEMENTERIAN PANRB 27 AGUSTUS 2019-434/HUMAS-MENPANRB/2019

Bagi Repdem ini menyoal rasa perikemanusiaan. Maka untuk itu mereka nantinya akan meminta penjelasan kepada Dinas Kesehatan Kota Tangerang maupun Wali Kota Tangerang terkait Kebijakan SOP yang dijalankan Puskesmas Cikokol tanpa menimbang rasa kemanusiaan.

Dilokasi aksi warga,Camat Tangerang Budi Wahyudi menjelaskan,pelayanan di Puskesmas Cikokol tetap berjalan seperti biasa dan tidak boleh berhenti karena ini lokasi pelayanan masyarakat yang harus tetap berjalan untuk melayani masyarakat.

“Pelayanan Puskesmas harus tetap berjalan dan tidak boleh berhenti,kalaupun ada spanduk kekecewaan warga diharapkan tidak perlu khawatir dan takut untuk berobat di Puskesmas Cikokol,” katanya.

Baca Juga :  Daftar Parpol Yang Lolos dan Gagal ke Parlemen

Budi mengatakan,bagi pihak-pihak yang merasa kecewa untuk bisa menahan diri karena Wali Kota Tangerang Arief R.Wismansyah akan mengambil kebijakan terkait perubahan SOP pelayanan ambulan di Kota Tangerang.

Diberitakan sebelumnya,Husein ditemukan meninggal pukul 16.15 Wib,Jumat (23/8/2019) akibat tenggelam di Sungai Cisadane,Cikokol,Kota Tangerang. Jasad korban yang tertutup kain kemudian digotong oleh pamannya,Supriyadi ke Puskesmas Cikokol untuk mendapatkan pelayanan ambulan. Namun,mereka ditolak. Menjelang Magrib,Supriyadi terpaksa menggotong kembali jasad keponakannya ini. Namun,ketika berada di jembatan penyeberangan orang (JPO) Cikokol,ada seorang warga yang menawarkan mobilnya untuk mengantarkan mendiang ke rumah duka. Jasad korban pun sudah dimakamkan di TPU Cikokol.

Supriyadi tidak mempermasalahkan soal petugas Puskesmas yang menolaknya ketika membutuhkan pelayanan ambulan. Tetapi,ia mengaku kecewa dengan sikap sejumlah petugas pelayanan ambulan rumah sakit serta pelayanan 112 yang tidak memberikan pelayanan prioritas disaat ia sangat dibutuhkan.

“Kami hanya kecewa dengan respon rumah sakit dan 112. Seharusnya,untuk pelayanan di rumah sakit tolong hal-hal darurat diutamakan,kalau ambulan tidak boleh dipakai,tapi tolong bantu gimana caranya agar bisa mengantarkan jenazah,” ungkapnya. (Horlas)


author

Redaksi

http://www.tiraipesisir.com

Independent & Demokratis

Follow Me: