Indonesia

Limbah Repu Kilang Sagu Milik Akang Sonde Mencemari Hutan dan Laut, Diminta DLH Meranti Menghentikan Sementara Kegiatan Produksinya

Limbah Repu Kilang Sagu Milik Akang Sonde Mencemari Hutan dan Laut, Diminta DLH Meranti Menghentikan Sementara Kegiatan Produksinya

MERANTI,TIRAIPESISIR.COM-Potensi Sagu Meranti terus menarik minat Badan Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia dengan mengeksplorasi manfaat Komoditi Andalan Meranti, terutama untuk mendukung ketahanan pangan nasional seperti yang saat ini dilakukan oleh BRG dengan penguatan kapasitas pengolahan lahan gambut dengan memadukan Sagu dengan tanaman hutan melalui pembuatan Demplot Agroforestry, yang akan membantu pembangunan Industri Hilir dan Marketing Sagu. Hal itu disampaikan oleh Plh.Deputy 2 BRG RI, Soesilo Indarto, saat berjumpa dengan Bupati Meranti, Drs.H.Irwan,M.Si, Senin (26/10/2020) lalu.

Foto : Kayu-kayu di hutan menjadi mati akibat dampak limbah repu sagu kilang Akang di Desa Sonde.

Selain itu, Bupati Kepulauan Meranti, Irwan dan Kepala Bulog, Budi Waseso juga membahas masa depan sagu dalam LIVE TALKSHOW SAGU bersempena Pekan Sagu Nusantara 2020 yang digelar di Graha Swala Kemenko Perekonomian RI Jakarta, Selasa (20/10/2020) lalu. Selain Bupati Irwan dan Kepala Bulog Budi Waseso, juga tampil sebagai narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kementerian Pertanian, dan Ibu Saptarining Wulan selaku Dosen Sekolah Tinggi Patiwisata Trisakti dan Penggiat Makanan dari Sagu.


Foto : Tempat limbah repu sagu yang dibuang ke hutan melalui paralon.

Sementara, pantauan redaksi di lapangan, Kamis (29/10/2020), hal tersebut diatas kelihatan bertolak belakang dengan limbah yang dihasilkan industri-industri sagu yang ada di Meranti yang terus mengancam ekosistem kerusakan lingkungan disekitar hutan, sungai dan laut, seperti yang dilakukan oleh Akang alias Edi Susanto pemilik industri sagu di Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepuluan Meranti, Riau. Limbahnya dibuang ke hamparan hutan dengan menggunakan paralon sepanjang lebih kurang 600 meter. Akibatnya, kayu-kayu di hutan itu menjadi mati, bila hujan turun limbahnya mengalir ke sungai dan ke laut.

Untuk itu diminta kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kepulauan Meranti segera melakukan tindakan sanksi berat yakni penghentian sementara produksi kilang sagu milik Akang di Desa Sonde, Kecamatan Rangsang Barat, sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor : 02 Tahun 2013 tentang Pedoman Penerapan Sanksi Adminitrasi di Bidang Perlindungan dan Pengelolahan Lingkungan Hidup. Pasal 3 Ayat (1) Huruf d, pencabutan izin lingkungan.

Foto : Paralon sepanjang lebih kuraang 600 meter dari tempat produksi.

Dan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kepulauan Meranti Nomor : 6 Tahun 2015 tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup. Pasal 53 Ayat (1) Hurud d, pencabutan izin lingkungan. Dan Pasal 54 Ayat (1) Huruf a, penghentian sementara kegiatan produksi.


Akang alias Edi Susanto, yang coba diminta klarifikasinya, Kamis (29/10/2020) melalui pesan WhatsApp ke nomor kontak pribadinya 08527283….tidak bersedia memberikan keterangan hingga berita ini diterbitkan. (Azman)
Editor : Zainuddin

Editor     :
Sumber :
author

Redaksi

http://www.tiraipesisir.com

Independent & Demokratis

Follow Me: