Kepulauan Meranti

Jembatan Selat Rengit Tak Kunjung Selesai,Tokoh Pulau Merbau Angkat Bicara

Jembatan Selat Rengit Tak Kunjung Selesai,Tokoh Pulau Merbau Angkat Bicara
Mega proyek Kabupaten Kepulauan Meranti tahun 2012-2014 yakni proyek multiyears yang seharusnya sudah bisa dinikmati masyarakat. Realisasinya,hingga akhir tahun 2019 ini hanya terpasang tiang pancang besi sejumlah beberapa batang saja. Foto : redaksi/tiraipesisir.com

MERANTI,TIRAIPESISIR.COM-Terkait Pembangunan Jembatan Selat Rengit (JSR) penghubung Pulau Merbau ke Pulau Tebing Tinggi, Tokoh Masyarakat Pulau Merbau angkat bicara, Senin (04/11/2019).


Tokoh Masyarakat Pulau Merbau yang tidak mau namanya disebutkan menerangkan bahwa dirinya mewakili seluruh masyarakat Pulau Merbau menyayangkan JSR tidak dapat terealisasi dengan baik, karena jembatan penghubung ini menjadikan cita-cita besar dan impian masyarakat Pulau Merbau khususnya, Masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti umumnya.

“Kami kesal, Jembatan penghubung ini tak siap. Padahal Jembatan ini penting, dan menjadi cita-cita besar kami masyarakat Pulau Merbau,” ujarnya.


Dirinya juga menjelaskan, dengan jumlah Alokasi Dana yang besar, seharusnya mega proyek Kabupaten Kepulauan Meranti tahun 2012 – 2014 proyek multiyears tersebut seharusnya sudah bisa dinikmati oleh masyarakat.

“Sekarang sudah tahun 2019, sudah 7 tahun Jembatan ini terbengkalai. Kalau bayi sudah sekolah, seharusnya hari ini kami masyarakat Pulau Merbau tak susah-susah naik kempang dan mengarungi air asin pada musim pasang tinggi untuk pergi ke Selatpanjang ibu kota Kabupaten Kepuluan Meranti,” ungkapnya kesal.

Baca Juga :  Moeldoko Minta Kapolri Usut Tuntas Kericuhan Saat Perayaan May Day di Bandung

Beliau menambahkan, seharusnya JSR ini merupakan hadiah yang indah dipersembahkan oleh Kabupaten Kepulauan Meranti kepada masyarakat Pulau Merbau, karena Pulau Merbau salah satu Pulau tertua dan masyarakatnya juga ikut berperan memperjuangkan pemekaran baik di daerah maupun ditingkat pusat.

“Pulau Merbau adalah pulau tertua, sudah sewajarnya Jembatan itu (sambil menunjukkan tangan ke arah JSR yang terbengkalai) menjadi hadiah indah yang dipersembahkan Kab.Kep.Meranti untuk masyarakat Pulau Merbau, karena masyarakat kami sangat berperan penting dalam proses pemekaran Kabupaten baik di Daerah maupun ditingkat Pusat,” terangnya lagi.

Kemudian Wakil Ketua Badan Pemantau Kebijakan Publik (BPKP) Auzir Sanip menerangkan bahwa mega proyek Kabupaten Meranti yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah, menurutnya pada tahun anggaran 2012 ada dana milyaran yang sudah dicairkan sebagai uang muka pengerjaan.

Baca Juga :  Kapolsek Ciledug,Kompol Supiyanto,SH Gelar Giat Cooling Sistem Sambang Di SMPN 3 Tangerang

“Dari data yang kita miliki, dan keterangan salah seorang pelaksana JSR mengisahkan Tahun Anggaran 2012 ada dana Rp 125 Miliar setelah diambil uang muka, sisanya Rp 67,141 Miliar. Dana itu belum dapat dicairkan karena pekerjaan dilapangan masih terhalang izin menyangkut Hutan Mangrove belum diterima/dibebaskan,” tegasnya.

Auzir Sanip yang diketahui juga putra asli Pulau Merbau menduga perusahaan pemenang tidak berpengalaman menangani proyek ini.

“Padahal Schedule sudah tersusun rapi, kita menduga perusahan pemenang tidak berpengalaman dibidang ini, sesuai dengan data prinsip pekerjaan JSR sudah ditetapkan pertahun anggaran, Tahun Anggaran 2012 pekerjaan timbunan dan pengadaan tiang pancang sudah hampir selesai, Tahun Anggaran 2013 Pemancangan dan pekerjaan betok ( PCI ginder seharusnya sudah ditangani), Tahun Anggaran 2014 Pekerjaan Jembatan Utama ( Steel Arch Bridge pekerjaan minor maupun jalan penghubung), namun Pemda Meranti memutuskan Kontrak dengan PT NK. Sekarang yang berdiri megah hanya tiang-tiang kalau dihitung mungkin tidak cukup dengan jumlah yang dibelanjakan,” terangnya.

Baca Juga :  IPK Kualuh Ledong Siap Dukung Haji Rizal Munthe - Aripay Tambunan Jadi Bupati dan wakil Bupati Labura

Selanjutnya, Petugas Lapangan JSR yang namanya tidak mau disebutkan menjelaskan bahwa dirinya tau persis tentang mekanisme dan proses pembuatan JSR.

“Penggunaan uang muka seharusnya diperuntukan untuk mobilisasi, timbunan dan pengadaan tiang pancang, pengadaan tiang pancang saja tidak selesai seperti spun pile C/500 yang tersedia 370 batang dari jumlah keseluruhannya 800 batang, spune Pile C/600 tersedia 2500 batang kebutuhan 3200 batang, teknis perkerjaanya sudah salah wajar saja tidak siap, balok ginder di Adhimix dan Steel arch didahulukan, semetara tiang pancang belum berdiri, ada maksud apa pekerjaan seperti itu,” pungkasnya. (Tim)
Editor : Redaksi


author

Redaksi

http://www.tiraipesisir.com

Independent & Demokratis

Follow Me: