Kepulauan Meranti

Banjir Pasang Keling Melanda Kota Sagu Selatpanjang Warisan Air Mata

Banjir Pasang Keling Melanda Kota Sagu Selatpanjang  Warisan Air Mata
FOTO FILE : Pusat pasar Sandang Pangan Kota Selatpanjang Dilanda Banjir Pasang Keling, Rabu (18/11/2020). Foto : Zai/Red/Tiraipesisir.com

SELATPANJANG,TIRAIPESISIR.COM-Sudah 3 (tiga) hari berturut-turut sebagian Kota Sagu Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti kelihatan semacam tenggelam dilanda ‘Pasang Keling’ dengan ketinggian genangan air laut yang naik ke darat bervariasi pada sejumlah titik; mulai dari 15 Cm, hingga lebih dari 30 Cm Meter. Bahkan, titik terparah kelihatan berada di Pasar Sandang Pangan Arah Sungai Juling hampir 60 hingga 70 Cm.

Menurut analisis seorang ilmuan di Meranti, Muhammad Husni (50), yang coba berbincang-bincang dengan redaksi TIRAIPESISIR.com, Rabu (18/11/2020) di Selatpanjang terkait akibat terjadinya banjir pasang keling di selatpanjang mengatakan, bahwa itu merupakan warisan dari orang-orang terdahulu, mereka mewariskan “Air Mata, Bukan Mata Air”.


Foto : Istimewa.

“Para pendahulu kita di selatpanjang ini, mereka wariskan kepada kita adalah air mata bukan mata air, inilah dia, banjir ketika datang musim pasang keling,” tutur Muhammad Husni yang akrap disapa Pak Husni itu.

Kata Husni, ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya banjir di Selatpanjang. Pertama, Benteng alam sudah punah, pokok-pokok kayu bakau (Mongrove) di sepanjang pantai pulau-pulau di selatpanjang ditebang, malah dibabat secara haram oleh para cukong-cukong dapur arang dengan memanfaatkan kehidupan masyarakat miskin di desa-desa yang bersepadan dengan hutan untuk menebang bakau. Dengan asap dapur-dapur arang para cukong tersebut mengalir pundi-pundi uang dolar mereka, sementara masyarakat si penebang hanya mendapat penghasilan sekedar makan, sungguh tidak sebanding.

Baca Juga :  Miris, Kegiatan Penyerahan Bantuan CSR Bank Riaukepri di ributkan Suara Burung Walet, Camat : Kita sudah Berikan Himbauan

Kedua, Pantai-pantai yang merupakan jalur hujau dibangun ruko-ruko dan dijadikan tempat pemukiman.


Ketiga, Kurangnya perhatian pemerintah pusat terhadap daerah-daerah pesisir.

Keempat, Mindset yang salah dalam pandangan membangun ‘Kota Selatpanjang’ oleh para pendahulu, yang akhirnya mereka mewariskan air mata kepada kita, bukan mata air untuk masa depan kehidupan anak cucunya.

“Yang kelima, es di kutub telah mencair dari permukaan bumi,” tandas Husni menguraikan analisisnya.

Sekedar informasi, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas lebih dari 17.508 buah pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 km (Pusat Riset Teknologi Kelautan 2002). Tingginya potensi di wilayah pesisir menyebabkan laju pemanfaatan sumberdaya di kawasan mangrove semakin meningkat, yang berakibat pada kerusakan ekosistem mangrove yang tinggi (DKP 2007). Hal ini menimbulkan berbagai dampak yang besar bagi ekologi, ekonomi, serta sosial di wilayah pesisir. Dampak yang terjadi mengakibatkan kawasan ini menjadi isu penting dalam penentuan jalur hijau (green belt) kawasan mangrove.

Baca Juga :  DPRD Meranti Gelar Paripurna Dengan Tiga Agenda

Keppres Nomor 32 Tahun 1990 mengenai Pengelolaan Kawasan Lindung memberikan perlindungan yang lebih memadai terhadap zona jalur hijau. Menurut Keppres tersebut, jalur mangrove pantai minimal 130 kali rata-rata pasang yang diukur ke darat dari titik terendah pada saat surut. Konstanta 130 diperoleh dari hubungan antara produksi organik hutan mangrove dengan kehidupan biota perairan pantai dengan kisaran pasang surut, yaitu 400 meter jalur hijau terhadap tinggi pasang surut 5 meter. Sesuai rumus maka batas lebar jalur hijau mangrove di Indonesia berkisar antara 52-702 meter tegak lurus dari garis pantai atau tepi sungai.

Baca Juga :  Serda Rido Utomo : Kita Harapkan Masyarakat Saling Menjaga Untuk Tidak Membakar Saat Membuka Lahan Baru

Sementara, dilansir dari Pikiran Rakyat.Com, total 28 triliun ton es di kutub telah mencair dari permukaan bumi sejak 1994. Pernyataan tersebut adalah kesimpulan para ilmuwan Inggris setelah menganalisa data survei satelit dari kedua kutub bumi, gunung-gunung es, dan gletser untuk mengukur berapa banyak es yang telah mencair karena pemanasan global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca.

Para ilmuwan tersebut yang kebanyakan berasal dari universitas Leeds dan juga Edinburgh, serta University College London mengatakan, bahwa jumlah es kutub yang telah mencair temuan mereka itu mengejutkan.

Mereka juga menambahkan, bahwa terdapat tanda-tanda akan meningkatnya tinggi permukaan air laut di akhir abad ini. Peningkatannya dapat menyentuh angka satu meter. Penyebab kenaikan tersebut adalah mencairnya gletser serta lapisan-lapisan es. (Red A01/09)

Editor     : Zainuddin
Sumber : Pikiran Rakyat.Com
author

Redaksi

http://www.tiraipesisir.com

Independent & Demokratis

Follow Me: