Sitename

Description your site...

Oktober 31, 2020

SEMMI Bogor Gelar Aksi Demo Tempat Maksiat Berujung Ricuh

SEMMI Bogor Gelar Aksi Demo Tempat Maksiat Berujung Ricuh
Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Bogor dan Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PERISAI) saat menggelar aksi demo di depan gedung Balaikota Bogor, Senin (22/7/2019). Foto : Horlas/tiraipesisir.com

loading…


BOGOR,TIRAIPESISIR.COM-Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam organisasi Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Bogor dan Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PERISAI) di depan gedung Balaikota Bogor,Senin (22/7/2019) lalu, berujung ricuh.

Aksi unjuk rasa mahasiswa mendapatkan tindakan represif dari aparat Kepolisian dan Satpol PP, ada 3 korban yang mendapatkan tindakan represif dari aparat Kepolisian dan Satpol PP. 3 orang diantaranya adalah Iskandar Subahri (22) mengalami luka hantam dibagian pelipis, dahi, kepala bagian kanan dan pipi bagian kiri. Alfath Nur Fauzan (22) mengalami kesakitan dibagian leher dan luka dipipi sebelah kiri. Sedangkan Ferga Aziz (22) yang juga sebagai koorlap aksi mengalami kesakitan pada bagian pinggang.

Ferga Aziz mengatakan, kami berunjuk rasa di Balaikota Bogor menuntut Walikota Bogor untuk menutup Imahalo Resto yang menjual minuman keras tak tidak ada izin serta menyalahgunakan izin operasional. “Tidak hanya itu, bahkan mahasiswa menuntut Walikota Bogor untuk memecat Kepala DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Kota Bogor, karena melakukan pembiaran terhadap THM tanpa izin. Namun tak selang lama kami melancarkan aspirasi didepan gedung Balaikota, aparat langsung bertindak represif terhadap kita sebagai peserta aksi, sehingga aksi tidak dapat dilanjutkan karena banyaknya korban,” kata Ferga Aziz,koorlap aksi.

Baca Juga :  Repdem Ingatkan Pemkab Bogor Jangan Asal Bongkar PK5 Jika Tidak Ada Jalan Keluar

Berdasarkan investigasi, Imahalo itu izinnya restoran, karena selain terpampang jelas di neon box dengan tulisan “Imahalo Resto”, usaha tersebut hanya membayar pajak 10% kepada Pemerintah kota Bogor, itu semakin membuktikan bahwa usahanya adalah restoran. Namun ketika melakukan investigasi pada 15 Juni 2019 malam hari, usaha tersebut berubah operasinya menjadi THM (Tempat Hiburan Malam) yang mempertontonkan perempuan menari-nari hanya menggunakan BH dan CD, menyediakan minuman keras seperti Martel dengan harga Rp 2,4 juta, Singleton dengan harga Rp 1,8 juta, Macalan dengan harga Rp 2,5 juta, Vodka 9 dengan harga Rp 600 ribu, Triplesec dengan harga Rp 550 ribu, Moscato Sababay dengan harga Rp 400 ribu, dan lain-lain.

Baca Juga :  Bupati Meranti Ikuti Rakornas Indonesia Maju 2019 Bersama Presiden RI Joko Widodo

“Ini kan mirip-mirip THM tak berizin atau mirip-mirip seperti menjual miras tanpa izin, bahkan seringkali Imahalo Resto melewati batas waktu beraktifitas, oleh karena itu kami menyikapinya dengan melaksanakan aksi unjuk rasa,” ujar Rizqi Fathul Hakim, Ketua Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Bogor.

Rizqi sangat menyayangkan, tindakan represif yang dilakukan oleh aparat Kepolisian dan Satpol PP, karena dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian jelas menegaskan, bahwa tugas kepolisian adalah untuk melayani, melindungi dan mengayomi masyarakat. “Apalagi kita melaksanakan aksi dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kebebasan Menyatakan Pendapat di Muka Umum. Padahal kita aksi normatif dan tidak bakar ban sama sekali, karena tindakan represif aparat ini, ia berencana melaporkan insiden tersebut ke Kadiv Propam Mabes Polri untuk segera ditindak lanjuti,”kata Rizqi optimis. (Horlas A08/08)

loading…


Bagikan berita ini
loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses