Sitename

Description your site...

April 2, 2020

P.Jeannie Latumahina Caleg DPR RI dari Partai Perindo : Politik Sebagai Perjumpaan

P.Jeannie Latumahina Caleg DPR RI dari Partai Perindo : Politik Sebagai Perjumpaan

JAKARTA,TIRAIPESISIR.COM-Ketika banyak orang berpikir bahwa politik adalah tentang merebut kekuasaan, akan menjadi aneh mengartikan politik sebagai perjumpaan.

Pengalaman saya bertahun-tahun mendampingi anak-anak dan kaum perempuan membantu saya untuk bagaimana memahami politik secara berbeda.

Setiap hari saya berjumpa dengan banyak orang. Dari orang yang paling kaya, hingga orang yg sangat miskin, dari para intelektual hingga yg tidak pernah bersekolah, ya macam-macam orang.

Tentu saja, ada banyak peristiwa gembira juga peristiwa memilukan. Terkadang bahkan sering terjadi konflik, meskipun mengalami rekonsiliasi untuk damai. Berhadapan dengan situasi yang serba rumit atau kompleks, emosi sering terkuras, frustasi menjadi-jadi, ada godaan untuk menilai orang lain dalam kategori baik-buruk, benar-salah, menang-kalah, menjadi moralis.

Ketika saya semakin aktif untuk terlibat dalam upaya pemilihan umum menjadi calon legislatif dari partai Perindo, saya semakin berjumpa dengan banyak orang.

Saya berusaha mendengarkan mereka, segala keluh kesah mereka, sambil berharap agar visi, misi saya cukup kuat menampung segala aspirasi mereka.

Baca Juga :  Ratusan Emak Emak Betawi,Mendeklarasikan Dukung Jokowi-Ma'ruf Amin

Dari berbagai perjumpaan itu, banyak pihak yang menerima saya dengan sangat antusias dan penuh apresiasi. Bagi saya, itu suatu pengalaman yang sangat luar biasa, dan semakin mendorong saya untuk setia bersama mereka memperjuangkan kepentingan mereka.

Jika saya bertolak dari prinsip bahwa saya menjadi calon legislatif karena saya orang yang mampu baik secara finansial, sosial, pendidikan atau bermoral, saya pasti gagal total.

Kenapa? Karena jika demikian, saya hanya akan menegaskan dominasi saya atas mereka, menempatkan diri di atas mereka karena merasa unggul, merasa punya tanggung jawab moral utk memberdayakan mereka, padahal justru dengan itu saya malah merendahkan mereka dan tidak memberdayakan mereka sama sekali.

Yang saya lakukan adalah saya menjadi bagian dari kerentanan atau penderitaan mereka, sambil menyadari bahwa saya pun seorang manusia yang juga punya kerentanan atau penderitaan.

Saya menjadi calon wakil mereka dengan terus hadir bersama mereka, tanpa ada pretending bahwa saya hendak menjadi penyelamat atau pahlawan mereka. Karena saya sadar bahwa usaha saya hanya lah sebagian kecil saja, dan banyak juga pihak lain yang berjuang bersama mereka.

Baca Juga :  Kapolda Metro Jaya,Irjen Gatot Eddy Pramono Lantik 4 Pejabat Utama Polda Metro Jaya

Politik hanya bisa terjadi melalui perjumpaan. Dalam perjumpaan, ada exercise of power to be part of the others pain, but not pretending to save them/or to be their savior.

Dalam perjumpaan itu, kita selalu menciptakan makna secara baru tentang siapa diri kita dan siapa orang lain bagi kita, bagaimana kita mendekati orang lain dan memahami kerentanannya, menjadi manusiawi. Itulah ethics yang bisa dibedakan dari menjadi moralis: kecenderungan menilai orang lain dengan titik tolak baik-buruk dan gagal memahami sejarah orang lain dengan segala kerentanannya.

Politik bukan soal menegaskan relasi kuasa dimana kita mempertahankan dominasi atas yang lain, yang hanya menghasilkan resistensi dari yang lain.

Politik adalah soal keterlibatan menjadi bagian dari kerentanan orang lain tanpa berpretensi menjadi pahlawan. Maka, menjadi wakil rakyat bagi saya adalah tentang mengeksplorasi kekuasaan, bagaimana menjadikan kekuasaan itu produktif, tidak dengan menganggap diri berkuasa atas orang lain, tetapi dengan memahami dan menjadi bagian dari kerentanan atau penderitaan orang lain.

Baca Juga :  Pemkab Bengkalis Menerima Anugerah Adipura Periode 2017-2018 dari KLHK

Dan, itu terjadi hanya kalau saya setia menghayati setiap perjumpaan dengan orang lain, terutama konstituen saya.

Sebagai politisi, Menolak untuk berjumpa dengan orang lain, dan lebih suka duduk manis di kursi empuk, adalah pengingkaran terhadap makna politik itu sendiri.

Menolak perjumpaan menjadi gagal paham tentang hidup, tentang diri dan orang lain yang selalu rentan. Itulah kecenderungan egoisme yang menuntun politisi itu pada abuse of power atau korupsi kekuasaan.

Kekuasaan itu sendiri punya kerentanannya yaitu dikorup. “Tugas saya adalah bagaimana mengeksplorasi kekuasaan agar produktif, berguna untuk menyejahterakan banyak orang/warga negara, dimulai dengan memahami kerentanan kekuasaan itu sendiri, kerentanan diri sendiri dan orang lain,”pungkas Jeannie Latumahina. (Horlas)

aaaaaaaa

Bagikan berita ini
  • 1
    Share

loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses