Sitename

Description your site...

Oktober 30, 2020

Merananya Nasib Pulau Kecil di Kepulauan Meranti,Bengkalis Ketika Eksploitasi Merajalela Tanpa Mempertimbangkan Sedikitpun Dampak Sosial dan Ekosistemnya…!!!

Merananya Nasib Pulau Kecil di Kepulauan Meranti,Bengkalis Ketika Eksploitasi Merajalela Tanpa Mempertimbangkan Sedikitpun Dampak Sosial dan Ekosistemnya…!!!

loading…


  • Hutan Bakau (Mangrove) Habis Dibabat Dengan Modus Izin HTR,-
  • Hutan Konservasi Habis Dibabat Dengan Modus Eksploitasi HGU Yang Tumpang Tindih,-
  • Hutan Produksi Habis Dibabat Dengan Modus Pencadangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR),-  

Oleh : Zainuddin,Hs,S.Ag Pimpinan Umum/Pimpinan Redaksi/ Pengjab TiraiPesisir.Com

Kendati telah ada Undang-Undang tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K),namun keberadaan UU itu tidak kuat dan tidak untuk menahan lajunya eksploitasi. Kabupaten Kepulauan Meranti dan Bengkalis yang kaya keanekaragaman hayati malah menjadi sasaran untuk perluasan investasi berbasis lahan.

Undang-Undang P3K Nomor : 27/2007 jo.UU Nomor : 1/2014 dianggap masih kalah dengan UU Nomor : 41/1999 tentang Kehutanan yang selama ini digunakan untuk menjustifikasi eksploitasi lahan di daratan pulau-pulau kecil. Akibatnya yang terjadi,pemberian izin akan berdampak kepada ekologis dan sosial masyarakat yang ada tinggal di pulau-pulau tersebut.

Baca Juga :  Di Meranti, PT CSMS Belum Kerjakan Proyek Provinsi Riau, Ada Apa ?

Awalnya masyarakat di kepulauan rangsang,merbau dan tebing tinggi di Kabupaten Kepulauan Meranti menolak rencana eksploitasi hutan di daerah kepulauan Meranti,karena pada akhirnya nanti masyarakat yang selama ini tergantung hidupnya kepada sumber daya alam di pulau-pulai kecil itu bakal tidak memiliki akses kepada hutan dan kekayaan alam yang ada.Terbukti,saat ini masyarakat di kepulaun Meranti dan Bengkalis kini menjadi merana,susah dan menderita disebabkan dampak dari alih fungsi hutan dengan perkebunan HTI dan eksploitasi itu membawa bencana besar terhadap tanaman pertanian masyarakat di wilayah perkebunan HTI tersebut. Yang dulu sebelumnya tidak ada hama kumbang kelapa,kini hama tersebut menyerang tanaman pertanian kelapa masyarakat,sehingga tidak sedikit tanaman pertanian kelapa masyarakat yang menjadi mati dan kalaupun ada yang hidup bagaikan hidup segan mati tak mau karena tidak produksi lagi seperti eksploitasi datang ke kepulauan Meranti merajalela.

Baca Juga :  Nasir,Kades Sungai Cina Layak Dipenjarakan...!!!

Cerita ini mirip disampaikan Gugun dari Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) pendamping masyarakat Mentawai,kepulauan yang terletak di pesisir laut Sumatera Barat. Menurutnya,datangnya “kemajuan” yang diintroduksi oleh pemerintah lewat program rumah hunian (settlement) telah membuat masyarakat adat di kepulauan Aru kehilangan akses kepada hutan. Bahkan mengalami krisis identitas dan kepercayaan diri sebagai sukubangsa. “Masyarakat adat tidak boleh lagi pergi buat ritual ke hutan.  Agama asli Mentawai tidak boleh lagi ada,dilemahkan. Keberadaan sikerei (shaman) sebagai tokoh spiritual yang menghubungkan manusia dan alam dihilangkan.

Baca Juga :  Kemendesa,PDTT Mengingatkan Pemangku Desa Agar Tidak Main2 Mengelola Dana Desa

Generasi muda kehilangan jati diri.Bahkan,muatan lokal pendidikan di Mentawai bukan tentang budaya Mentawai, tetapi budaya Minangkabau. Parahnya,menurut Gugun pemerintahpun turut memberi stigma budaya asli Mentawai adalah tertinggal. Disaat bersamaan,kala masyarakat hilang interaksi dengan hutan,sejak 1970-an perusahaan HTI dan konsesi mulai masuk di Mentawai dan selanjutnya masuk merambah dan membabat hutan di pulau-pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Meranti dan Bengkalis. “Anjing Menggonggong Kapilah Tetap Berlalu. Solusinya adalah, pemerintah harus segera memberikan izin HTR Hutan Bakau di Kepulauan Meranti,Bengkalis dan Dumai. Berikan dan fasilitasi masyarakat yang bersepadan dengan hutan bakau dengan membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) dan jadikan hutan bakau (mangrove) menjadi tanaman silvikultur dengan pola budi daya hutan bakau (mangrove)***

 

loading…


Bagikan berita ini
loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses