Sitename

Description your site...

September 19, 2020

Diminta Dishut Sumut Turun Kelapangan Tangkap Pencuri TBS,Lamiris Tinambunan Akui Kurangnya Personil Patroli Lapangan

Diminta Dishut Sumut Turun Kelapangan Tangkap Pencuri TBS,Lamiris Tinambunan Akui Kurangnya Personil Patroli Lapangan
Aksi pencurian buah TBS di Perkebunan Kelapa Sawit PT SAB/KSU AMELIA,yang disita oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara (Sumut),dan sah kembali menjadi milik negara berdasarkan Ketetapan Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat,Nomor : 1519/Pen.Pid/2018/PN Rap,tertanggal 26 November 2018. Foto : Budi Hermansyah Saragih/tiraipesisir.com

LABUHANBATU,TIRAIPESISIR.COM-Terkait maraknya aksi pencurian Tandan Buah Segar (TBS) di Perkebunan Kelapa Sawit PT SAB/KSU AMELIA,yang disita oleh Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara (Sumut),dan sah kembali menjadi milik negara berdasarkan Ketetapan Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat,Nomor : 1519/Pen.Pid/2018/PN Rap,tertanggal 26 November 2018.

Usai disita,kini perkebunan tersebut kelihatan terdampar dan aksi pencurian pun semakin marak dan vulgar seakan-akan bebas dari ketentuan hukum yang berlaku.

DiLapangan,salah seorang pemuda terekam Video Android sedang memikul satu janjang buah TBS disertai alat dodos ditangannya memuat kedalam keranjang menggunakan angkutan sepeda motor, diperkirakan muatan keranjangnya berkisar 200 kg,diduga sebagai pelaku.

Saat ditanya,pemuda tersebut enggan menyebutkan namanya sembari mengaku,bahwa ia disuruh salah seorang bernama inisial MN. “Bapak jumpai saja MN,dia yang mengatur semuanya,kami hanya mendodos dihargai Rp.70.000/per kg,”ucapnya.

Menelusuri informasi yang disampaikan oleh pemuda tersebut,awak Media ini mencari kebenarannya,ketika ditengah perjalanan,salah seorang masyarakat memberitahu tempat dimana MN menimbang buah TBS yang kebetulan tidak berapa jauh dari areal perkebunan.

Baca Juga :  Masyarakat Desa Se-Kecamatan Bilah Hulu Apresiasi Komunitas Sanggar Senam Daeli

Ditempat penimbangan,MN terlihat sedang menimbang buah TBS berkisar ribuan kilogram,diduga TBS tersebut hasil aksi operandi kejahatan pencuriannya yang terstruktur,diabadikan lewat rekaman video dan sejumlah foto.

Dengan mendapatkan beberapa bukti,awak Media inipun mencoba melakukan penelusuran ke perkebunan milik DN,yang kebetulan tidak jauh dari perkebunan PT SAB/KSU AMELIA. Nah,di perkebunan milik DN,aksi pencurian pun juga vulgar terjadi,dan warga sekitar menilai, pencurian tersebut disebabkan kurangnya pengawasan dan penjagaan dari pihak instansi yang bersangkutan yakni Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,Wilayah V Aek Kanopan.

Berdasarkan rangkuman sejumlah bukti serta informasi warga,awak Media ini melanjutkan menggali informasi dari pihak Dinas Kehutanan Wilayah V Aek Kanopan,Lamiris Tinambunan S,Hut,Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat,Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara,Wilayah V Aek Kanopan yang coba dikonfirmasi via selulernya Membenarkan,kabar maraknya aksi pencurian diperkebunan tersebut, namun Ia menepis,bahwa pihaknya tidak pernah melakukan pembiaran atas aksi pencurian diperkebunan itu. “Alasan Lamiris,karena kurangnya personil dan tidak ada anggaran pengawasannya,sehingga membuat kami kurang intensif bekerja di lapangan,”kata Lamiris.

Baca Juga :  Plt.Bupati Labuhanbatu,H.Andi Suhaimi : Dengan Olahraga Kita Membangun Indonesia

Kendati demikian,pihaknya telah memerintahkan Kepala Resort, Rupinta Tarigan dan Mamora. “Ya,mereka berdua ditugaskan disana,” ucap Lamiris lagi.

Sejauh itu,Lamiris menjelaskan,tentang keberadaan perkebunan kelapa sawit milik DN dianggap koperatif hukum,oleh karena dasar koperatif itulah keluar kebijakan penyidik,yang mana sebelum ada keputusan hukum tetap Inisial DN diperbolehkan merawat,memelihara dan memanen.

“DN memperoleh tanahnya dulu dengan cara ganti rugi dari masyarakat,faktor itu jugalah DN diperbolehkan merawat,memelihara, dan memanen,walaupun sudah ada Ketetapan PN Rantauprapat,bahwa tanah DN telah disita,”ujarnya.

Namun Lamiris menegaskan,bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan sepucuk surat izin apapun,hanya kebijakan diluar administrasi karena DN dianggap koperatif hukum. “Kita tidak pernah mengeluarkan surat izin kepada DN,hanya kebijakan dianggap koperatif hukum,”tutup Lamiris.

Ditempat terpisah,Inisial GN adik DN,ketika dikonfirmasi melalui selulernya membenarkan,telah memanen buah TBS milik abangnya,ia merasa kecewa atas tindakan pihak Dinas Kehutanan Provinsi Sumut yang telah menyita tanah perkebunan milik abangnya,dan Ia menyebut, bahwa Aaeal perkebunan tanah milik abangnya berlokasi di Kelurahan Sei Berombang,bukan di Desa Wonosari,titik aman kawasan hutan.

Baca Juga :  Dalam 2 Pekan,Polres Labuhanbatu Ungkap 19 Kasus

“Hendaknya,jauh sebelum dikuasai masyarakat,Dinas Kehutanan harusnya memberitahu bahwa areal tanah yang dikuasai masyarakat berada pada titik kawasan hutan,jangan setelah ditanami baru diklaim kawasan hutan. Sakit sekali pak,kami menjadi korban kerugian meteri,” ucap GN kesal.

GN juga menyayangkan,tanah milik warga disekitar perkebunan abangnya tidak ikut disita,padahal areal tersebut disinyalir berada pada titik kawasan hutan,aneh bin ajaib,Dinas Kehutanan dianggapnya tidak adil.

Ditanya,apakah sudah melakukan upaya hukum,GN membeberkan, pihaknya melapor ke Poldasu terkait pengrusakan perumahan karyawan. “Ya,sudah dilapor oleh keluarga ke Poldasu pak,”tutup GN.

Sampai berita ini diterbitkan,teka teki kejahatan pencurian buah TBS di areal tanah milik negara itu masih misteri. Aksi pencurian terlihat vulgar dan bebas seakan-akan tidak ada sanksi hukum pidana di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini,dan pelakunya hingga kini masih merajalela mencuri harta milik negara itu. (Budi Hermansyah Saragih)
Editor : Redaksi

loading…


Bagikan berita ini
  • 53
    Shares

Tags: , ,
loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses