Sitename

Description your site...

Mei 25, 2020

Dampak Virus Corona, Roy Wijaya Tunda Produksi Dua Film Horor

Dampak Virus Corona, Roy Wijaya Tunda Produksi Dua Film Horor

JAKARTA,TIRAIPESISIR.COM-Penyebaran virus Corona yang begitu luas membuat industri film di luar dan di dalam negeri ikut kena dampaknya. Diketahui, virus SARS-CoV-2 ini telah menyebar ke 119 negara, dengan jumlah orang terdampak telah lebih dari 119.000 kasus.

Selain Cina, negara lain yang paling terdampak adalah Italia—dengan jumlah kasus lebih dari 10.000, Iran dengan jumlah kasus lebih dari 8.000, dan Korea Selatan dengan jumlah kasus lebih dari 7.700 dan Indonesia lebih dari 1000 kasus.

Produser dan Sutradara Cakrawala Film D. Roy Wijaya mengatakan, pengaruh terbesar terlihat pada industri perfilman di Indonesia. Menurutnya, saat ini film film Indonesia secara kualitas dan juga ketersediannya sudah sangat memadai, dan kontribusi film film lokal juga meningkat. Namun sayang, epidemi Virus Corona, kembali melunturkan semangat para Cineas lokal.

Baca Juga :  Melalui Munas I Perkumpulan MOI Resmi Terbentuk

Roy mengatakan, sejak virus corona merebak, setidaknya ada tujuh film Hollywood yang ditunda perilisannya, di antaranya adalah A Quite Place Part II, Mulan, The New Mutants, F9, Peter Rabbit 2: The Runaway, dan Black Widow.

“Untuk film Indonesia sampai saat ini ada dua film yang ditunda rilis sampai waktu belum ditentukan, yakni KKN Desa Penari dan Tersanjung The Movie yang sedianya sama-sama tayang pada 19 Maret 2020, terpkasa harus di tunda,” jelasnya.

Bahkan berbagai persiapan yang sudah matang dilakukan Rumah Produksi Cakrawala Film untuk dua Film Horor yaitu Terror Leak dan Topeng Kramat terpaksa di tunda, sampai batas waktu yang tidak ditentukan dan disesuaikan dengan ijin pemerintah.

Menurut Roy, corona yang sudah berlangsung hampir 2 bulan di sepanjang tahun 2020 ini, diproyeksi sudah menjadi bencana finansial terbesar di industri sinematik. “Ini adalah bencana sistematik terbesar bagi industri sinema, babak belur secara finansial dalam jangka pendek,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ketua DPRD Meranti Berharap Penerapan Perda RTRW Tidak Menghambat Pembanguan Dan Investasi

Situasi yang dialami saat ini, kata Roy, bisa jadi sejarah tersendiri bagi industri perfilman Indonesia, karena tidak ada pembanding momen sebelumnya. Apalagi, sampai saat ini tidak bisa dipastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menahan penyebaran virus.

“Begitu wabah telah berhenti, akan butuh waktu lebih lama untuk membujuk orang kembali ke kebiasaan mereka yang lama. Termasuk nonton bioskop,” ungkapnya.

Roy Menilai, Hasil box office akhir pekan ini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda apa yang akan terjadi di masa depan. Jelas, konsekuensi keuangan ini kemungkinan akan dirasakan oleh studio, pembuat film seperti Cakrawala Film dan pemilik teater selama bertahun-tahun yang akan datang.

Baca Juga :  Pahlawan Super, Dari Dekat Dan Jauh, Bergabung Dengan Pertempuran Coronavirus Indonesia

Padahal, Pada tahun 2018 sebelumnya, penerimaan box office mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 11,9 miliar di Amerika. Bahkan sebelum virus corona, analis memperkirakan penjualan tiket pada tahun 2020 akan lebih rendah dari 2019. Sementara ini, penjualan box office Amerika Utara masih naik 3,7% dari tahun lalu, dari 1 Januari hingga 1 Maret, menurut data Comscore.

Namun, perkiraan terbaru dari analis Wedbush Michael Pachter memproyeksikan penjualan tiket tahun ini akan turun 2,6% menjadi US$ 11,1 miliar. Ketika Roy Wijaya menulis catatan itu, ada lebih dari 100 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dan Pada hari Minggu, jumlahnya telah meningkat menjadi lebih dari 1000 lebih kasus di Indonesia.(Hry)

Editor : Agus Salim.Hs

loading…


Bagikan berita ini
loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses