Sitename

Description your site...

Oktober 27, 2020

8.300 Hektar HTR Kabupaten Kepulauan Meranti, 47 Panglong Arang dan 181 Dapur Memproduksi Kayu Bakau Haram

8.300 Hektar HTR Kabupaten Kepulauan Meranti, 47 Panglong Arang dan 181 Dapur Memproduksi Kayu Bakau Haram
FILE FOTO : Dapur Arang. Foto : redaksi/tiraipesisir.com

loading…


MERANTI,TIRAIPESISIR.COM-Kabupaten Kepulauan Meranti mendapat izin pencadangan areal untuk pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) seluas 8.300 Hektar. Menteri Kehutanan (Menhut) mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor : SK.250/Menhut-II/2012, tanggal 24 Mei 2012 dengan lokasi di Pulau Padang.

Dikutip dari metro terkini.com, Bupati Meranti, Irwan kepada wartawan di Selatpanjang, Rabu (13/6/2012) silam mengatakan, SK HTR tahap pertama sudah diterbitkan Kementerian Kehutanan (Kemenhut). “Kita mendapat pencadangan areal seluas 8.300 Hektar untuk kawasan Pulau Padang,” katanya.

Foto : Istimewa redaksi.

Dengan alokasi HTR itu, menurut Irwan, dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang memerlukan lahan pengembangan kebun rakyat, seperti sagu dan karet. Selain itu, diharapkan bisa menjadi jalan keluar bagi pemenuhan bahan baku industri arang.

Baca Juga :  Dana Aspirasi Dewan Kepulauan Meranti Dipertanyakan

Sekedar informasi, dari seluas 8.300 Hektar pencadangan areal HTR Kabupaten Kepulauan Meranti, Koperasi Silva, Keperasi Silva Sejahtera Berseri, dan Kaperasi Mangrove Meranti Lestari, masing-masing mendapat IUPHHK-HTR tahun 2014 seluas 700 Hektar, total 2.100 Hektar di Pulau Padang.

Pada tahun 2015, Koperasi Silva mengajukan Permohonan kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kepulauan Meranti, Perihal Penerbitan Sisa Usulan Pencadangan HTR di Kabupaten Kepulauan Meranti, yang ditanda tangani Ketua Koperasi Silva, Atan, dengan Nomor : 61/KOP-S/XI/2015, tertanggal 02 Nopember 2015.

Baca Juga :  Sempena Idul Adha 1440 H,PemKab Meranti Bagikan 25 Ekor Hewan Qurban Ke Masjid dan Mushola

Alasannya, dengan luasan 2.100 Hektar itu belum mampu melayani kebutuhan panglong arang anggota Koperasi berjumlah 55 panglong arang dengan 220 dapur, yang menyebar di Pulau Tebing Tinggi, Pulau Rangsang, Pulau Merbau, dan Pulau padang, sedangkan di Pulau Padang panglong arang hanya ada sejumlah 8 panglong dengan jumlah 39 dapur. Artinya, sejumlah 47 panglong arang dan sejumlah 181 dapur memproduksi bahan kayu bakau haram alias dari hasil tebangan liar dengan modus (dilema-red) memperdaya kesusahan/kesulitan ekonomi masyarakat Meranti yang bersepadan hutan bakau di Meranti.

Baca Juga :  Jembatan Selat Rengit Tak Kunjung Selesai,Tokoh Pulau Merbau Angkat Bicara

Belum lagi, untuk kayu bakarnya jenis kayu nyirih dan kayu jenis camparan, dengan siapa mereka bayar DR dan PSDH nya yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kalaupun mereka bayar, tidak sebanding dengan kerusakan hutan produksi kayu bakau (mangrove) di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Atan, Ketua Koperasi Silva, yang coba dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Minggu (18/10/2020), sekira pukul 14:48 Wib, hingga berita ini diterbitkan tidak bersedia memberikan keterangan. (Red)
Editor : Zai

loading…


Bagikan berita ini
Tags: , , , , , , , , ,
loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses